Kiprah Dosen DTM SV-UGM di Mongolia, Kawal Inovator Muda Tembus Panggung COP17

ULAANBAATAR – Dalam upaya memperluas kolaborasi internasional dan memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian krisis lingkungan global, Dr. Eng. Ir. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M.Eng. (akrab disapa Dr. Ade), dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), hadir sebagai Global Lead Instructor dalam ajang “Nomatech Challenge: Problem to Prototyping”. Program bootcamp pertama di Mongolia yang berfokus pada pengembangan produk ini diselenggarakan secara resmi oleh Gerlab Engineering Workshop, Ulaanbaatar Science and Technology Park, National University of Mongolia (NUM) pada tanggal 10 hingga 18 Agustus 2026, dan merupakan bagian dari kegiatan internasional COP17.

Dalam kegiatan ini, Dr. Ade mewakili FabLab Jogja, bagian dari Fablab Asian Network (FAN), di mana merupakan satu bagian dari Center of Excellence (CoE) Bidang Medical Devices and Fabrication Laboratory & Plant, Sekolah Vokasi UGM. Sesuai dengan penugasan resminya, beliau hadir dan berkontribusi secara langsung (luring) di Mongolia sejak fase persiapan yang krusial pada 6 hingga 14 Agustus 2026.

Diundang secara khusus berkat kepakarannya di bidang hands-on engineering, Dr. Ade mengambil peran sentral pada paruh pertama pelaksanaan program dengan memimpin pendekatan metodologi Problem to Prototype. Selama masa kehadirannya di Mongolia, beliau meletakkan fondasi rekayasa teknis yang kuat bagi 42 inovator muda yang berasal dari berbagai provinsi di Mongolia serta mahasiswa internasional asal India dan Jepang. Bersama pakar FabLab global lainnya, yakni Phanuwit Rico Kanthatham (Jepang) dan Aniruddh Mali (India), Dr. Ade memberikan bimbingan teknis tingkat tinggi di bidang design thinking, rekayasa mekanik, dan fabrikasi digital.

Proses bimbingan yang dikawal langsung oleh Dr. Ade sangat komprehensif. Beliau memimpin para peserta turun ke lapangan dalam fase Field Research di Batnorov Soum, Provinsi Khentii. Di bawah arahannya, peserta diajak memvalidasi masalah lingkungan, seperti degradasi lahan, penggurunan, kekeringan, dan isu agrikultur berkelanjutan, melalui interaksi langsung dengan pemangku kepentingan lokal, termasuk Gubernur Batnorov Soum, ahli pertanian, dan para peternak. Setelah masalah tervalidasi di lapangan, beliau menarik tim kembali ke GERLAB Engineering Workshop untuk merancang solusi fungsional melalui pemodelan 3D, pemotongan laser, pengerjaan mesin CNC, perakitan elektronik, hingga integrasi mekanik.

Karena adanya agenda strategis lain yang menuntut kehadirannya di Indonesia, Dr. Ade harus meninggalkan lokasi acara secara fisik setelah tanggal 14 Agustus. Namun, kontribusi dialihkan dengan mendampingi tim asuhannya dan memberikan bimbingan penyelesaian masalah (troubleshooting) secara daring (online) untuk memastikan purwarupa siap diuji secara fungsional.

Sinergi antara pembekalan intensif di awal program dan pengawalan jarak jauh ini membuahkan hasil manis. Pada acara puncak Demo Day tanggal 18 Agustus 2026, enam tim multidisiplin asuhannya sukses mempresentasikan inovasi teknologi tepat guna mereka di Tsagaadai Hall. Tidak sekadar presentasi, karya-karya purwarupa (prototype) tersebut juga dipamerkan secara publik di Paviliun “Science and Community” (Booth A29) kepada para delegasi tingkat dunia di UNCCD COP17 Green Zone.


Inisiatif dan bimbingan teknologi yang dipimpin oleh Dr. Ade dalam Nomatech Challenge ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin penting Sustainable Development Goals (SDGs) global, di antaranya:

  • SDG 4 (Pendidikan Bermutu) & SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): Dicapai melalui transfer pengetahuan hands-on engineering, teknologi fabrikasi, serta pendampingan pengembangan produk bagi 42 inovator muda.
  • SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi) & SDG 15 (Ekosistem Daratan): Terwujud melalui metodologi perancangan alat yang secara spesifik dibuat untuk mengatasi kekeringan, penggurunan, dan memulihkan lahan terdegradasi di Mongolia.
  • SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) & SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Diimplementasikan lewat pameran inovasi purwarupa teknologi ramah lingkungan yang mampu unjuk gigi di arena paralel COP17 Green Zone.
  • SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Mengukuhkan sinergi internasional nyata antara akademisi UGM, pakar dari Jepang dan India, National University of Mongolia (NUM), serta jaringan FabLab Global.

Keterlibatan strategis Dr. Ade di ajang ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat posisi FabLab Jogja UGM di dalam jejaring Fablab Asian Network (FAN) dan ekosistem global pembuat inovasi (maker ecosystem). Melalui program luar biasa ini, diproyeksikan akan terbuka peluang kolaborasi riset lanjutan maupun program pertukaran akademik lintas negara antara UGM dan institusi internasional lainnya di masa mendatang

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses