ULAANBAATAR – Dalam upaya memperluas kolaborasi internasional dan memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian krisis lingkungan global, Dr. Eng. Ir. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M.Eng. (akrab disapa Dr. Ade), dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), hadir sebagai Lead Instructor dalam ajang bergengsi “Nomatech Challenge: Problem to Prototyping”. Kegiatan berskala internasional ini diselenggarakan oleh Gerlab Engineering Workshop bertempat di Ulaanbaatar Science and Technology Park, National University of Mongolia (NUM), Ulaanbaatar, Mongolia, pada tanggal 6 hingga 18 Agustus 2026.
Dr. Ade, yang menjabat sebagai Ketua Program Sarjana Terapan Program Studi Teknik Pengelolaan dan Perawatan Alat Berat (TPPAB) di Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi (DTM SV) UGM, hadir mewakili institusinya sekaligus membawa bendera Center of Excellence (CoE) Bidang Medical Devices and Fabrication Laboratory & Plant atau FabLab Jogja.
Partisipasi perwakilan UGM dalam acara ini memiliki urgensi yang sangat strategis karena Nomatech Challenge diselenggarakan secara paralel dengan agenda internasional tingkat dunia, yakni UNCCD COP17 di Mongolia. Program yang dikemas dalam bentuk hardware prototyping sprint intensif ini difokuskan pada inovasi di bidang iklim dan lingkungan, agrikultur berkelanjutan, ekonomi sirkular, dan inovasi sosial.
Menariknya, konsep “Nomatech Challenge: Problem to Prototyping” ini merupakan hasil adaptasi dari Fab Camp Challenge yang sukses diselenggarakan oleh Fablab Jogja pada tahun 2023-2024 di Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia, dan telah dipresentasikan pada ajang Maker Faire Shenzhen pada tahun 2025. Keterlibatan ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat posisi FabLab Jogja UGM di dalam jejaring Fablab Asian Network (FAN) dan Fablab Global.
Diundang secara khusus berkat kepakarannya di bidang hands-on engineering, Dr. Ade memiliki misi utama untuk membimbing para inovator muda mengatasi tantangan lingkungan secara nyata. Isu-isu kritis yang dipecahkan berpusat pada masalah penggurunan (desertification), kelangkaan air, dan degradasi lahan.
Sebagai Lead Instructor, beliau secara langsung mengawal dan membimbing 42 mahasiswa yang terbagi ke dalam 6 tim multidisiplin. Setiap tim memiliki kolaborasi peran yang unik, mulai dari Engineer, Scientist, Designer, Programmer, Business, hingga Presenter. Program kolaboratif ini juga melibatkan para peserta dan mitra global, salah satunya adalah Institute of Science Tokyo.
Proses bimbingan (mentoring) dilakukan secara komprehensif, tidak hanya memadukan kerja di dalam laboratorium, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Rangkaian kegiatan dimulai dengan Field Research Training dan kunjungan co-creation ke Provinsi Khentii, Berkh Soum, untuk mewawancarai para praktisi agrikultur regeneratif dan peternak lokal. Setelah memetakan akar masalah, para peserta diarahkan masuk ke tahapan Solution Design Studio untuk merancang solusi teknis.
Dr. Ade bersama dengan Rico Skylab Kamakura dan Anirrudh Makerguru Bhayan kemudian memandu fase fabrikasi secara intensif, mencakup Low-Fidelity Modeling, Digital Design & Development (CAD/3D Printing/Laser Cutting), perakitan sistem mekanik dan elektronika, hingga Prototype Testing. Rangkaian panjang ini diakhiri dengan presentasi dan demonstrasi alat secara langsung di hadapan para mentor ahli.
Inisiatif dan solusi teknologi yang dikembangkan dalam Nomatech Challenge ini secara langsung mendukung pencapaian beberapa poin penting Sustainable Development Goals (SDGs) global, di antaranya SDG 4 (Pendidikan Bermutu) & SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur): dicapai melalui transfer pengetahuan hands-on engineering, teknologi fabrikasi digital, serta pendampingan intensif bagi 42 inovator muda. SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi) & SDG 15 (Ekosistem Daratan): Terwujud melalui perancangan solusi untuk mengatasi kelangkaan air, penggurunan, dan memulihkan lahan terdegradasi.SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) & SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Diimplementasikan lewat penerapan prinsip ekonomi sirkular dan aksi nyata inovasi iklim di arena paralel COP17.SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Mengukuhkan sinergi internasional antara UGM, NUM, Institute of Science Tokyo, serta komunitas Fablab Global.
Melalui keikutsertaan ini, diharapkan inovasi teknologi rekayasa yang dikembangkan selama Nomatech Challenge dapat diadopsi untuk memperkaya kegiatan pengajaran di UGM. Lebih dari itu, program ini diproyeksikan akan membuka peluang inisiasi kolaborasi riset lanjutan maupun program pertukaran akademik lintas negara di masa mendatang.