Yogyakarta, 23 Juli 2026. Industri pengolahan bambu laminasi menghasilkan limbah padat dalam jumlah besar dari proses pembelahan, penyerutan, dan perataan. Limbah ini umumnya dibuang atau dibakar terbuka, padahal masih mengandung energi. Menjawab persoalan tersebut, tim peneliti Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, merancang sistem pirolisis portabel untuk mengolah limbah bambu menjadi produk bernilai tambah.
Tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mesin (TRM) angkatan 2024 juga terlibat dalam kegiatan ini. Kolaborasi dilakukan bersama PT Arsinggaru Bambu Nusantara, yang menyediakan limbah bambu dan akses lokasi.

Bambu tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Melalui pirolisis, yaitu pemanasan dalam kondisi minim oksigen, komponen tersebut diuraikan menjadi tiga fraksi: cairan, padatan (biochar), dan gas. Pendekatan ini dipilih karena fleksibel terhadap jenis bahan baku dan dapat diterapkan dari skala kecil hingga industri.
Tim merancang reaktor fixed-bed sebagai unit portabel yang terdiri atas hopper umpan biomassa, reaktor utama, siklon pengumpul biochar, kondenser, serta penampung produk cair dan gas, dengan nitrogen sebagai gas inert. Tahap perancangan dimulai dari studi literatur, desain awal, analisis teknik, hingga finalisasi gambar teknik. Pemilihan material tahan panas dan penempatan sensor temperatur di beberapa titik juga ditetapkan pada tahap ini agar distribusi panas lebih terkendali dan kehilangan energi dapat ditekan.
Sebagai bagian dari perancangan, tim juga menguji karakteristik dasar limbah bambu melalui analisis proksimat, ultimat, dan nilai kalor. Data ini menjadi acuan dalam menentukan kebutuhan energi proses serta kesesuaian reaktor.
Penelitian ini mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, yaitu SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Tahap selanjutnya adalah manufaktur prototipe dan pengujian kinerja sistem.