Yogyakarta Butuh Kota yang Siap Kendaraan Listrik: Tim SV UGM Petakan Titik Rawan Energi dan Blank Spot Pengisian Daya

Yogyakarta, Sebagai kota pelajar, kota budaya, dan salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, Yogyakarta menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan kotanya. Pertumbuhan kendaraan bermotor, kemacetan di pusat kota, dan meningkatnya emisi menuntut perencanaan kota yang lebih berpihak pada keberlanjutan, termasuk dalam cara warganya bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Kendaraan listrik, khususnya sepeda motor listrik, menjadi salah satu jawaban atas tantangan tersebut. Namun, dukungan terhadap penggunaannya masih terganjal pada infrastruktur pengisian daya. Titik pengisian daya belum tersebar merata, sehingga masih banyak wilayah yang menjadi blank spot. Kondisi ini membuat calon pengguna ragu beralih karena khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan.

Persoalan ini tidak hanya menyangkut kenyamanan pengguna. Yogyakarta bertumpu pada sektor UMKM dan pariwisata, yang sangat bergantung pada mobilitas sehari-hari, mulai dari pengantaran barang, ojek daring, hingga perjalanan wisatawan menuju destinasi di pinggiran kota. Jika transisi energi tidak berjalan mulus, pelaku UMKM dan pariwisata dapat terdampak, misalnya karena biaya operasional yang tidak pasti atau akses ke kawasan wisata yang sulit dijangkau kendaraan listrik.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dipimpin oleh Dr. Eng. Agustinus Winarno, melaksanakan penelitian berjudul “Optimasi Jalur Hemat Energi Kendaraan Listrik Roda Dua”. Tim berkontribusi dengan memetakan potensi penggunaan kendaraan listrik di Yogyakarta, sekaligus mengidentifikasi titik-titik lelah, yaitu lokasi yang masih menjadi blank spot pengisian daya dan menuntut energi besar bagi kendaraan, seperti jalan menanjak.

Tim peneliti terdiri atas Agustinus Winarno (ketua), Surojo, Lilik Dwi Setyana, Irfan Bahiuddin, Nyayu Aisyah, Prasetianto Nandana Evan Arnikto, Fadhlur Rohman Faiq, Rafif Mustawan, Muhammad Rizky Alvian, Putra Prasaja, Naufal Dzakwan Nur Muzhafar, dan Sugiyanto, dengan dukungan PT Macvory Digital Engineering sebagai mitra fabrikasi.

“Tidak semua jalan diperlakukan sama oleh baterai. Tanjakan dan ruas jalan tertentu bisa menguras energi jauh lebih cepat. Kalau lokasi seperti itu justru jauh dari titik pengisian daya, di situlah pengguna paling rentan. Peta ini kami harapkan bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan di mana fasilitas pengisian daya paling dibutuhkan,” jelas Winarno.

Hasil pemetaan diharapkan dapat membantu pemerintah daerah, penyedia layanan pengisian daya, serta pelaku usaha dalam merencanakan ekosistem kendaraan listrik yang lebih merata. Dengan perencanaan yang tepat, transisi energi di Yogyakarta dapat berjalan tanpa meninggalkan pelaku UMKM dan sektor pariwisata, bahkan dapat menjadi nilai tambah bagi citra Yogyakarta sebagai kota wisata yang ramah lingkungan.

Penelitian ini didanai melalui program Hibah Riset Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada Tahun 2026 dan melibatkan mahasiswa Sekolah Vokasi UGM dalam kegiatan pengambilan data di lapangan.

Kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

  • SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan: mendukung perencanaan kota Yogyakarta yang berkelanjutan dan ramah kendaraan listrik.
  • SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur: memberi dasar penempatan infrastruktur pengisian daya di lokasi yang paling membutuhkan.
  • SDG 7 – Energi Bersih dan Terjangkau: mendorong transisi energi di sektor transportasi.
  • SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi: menjaga keberlangsungan UMKM dan pariwisata selama masa transisi energi.
  • SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim: mendukung pengurangan emisi kendaraan di kawasan perkotaan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses