WONOSOBO — Persoalan sampah padat di kawasan lereng Gunung Sumbing kini mulai menemukan solusi konkret. Melalui pendanaan Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Skema Terapan Tahun Anggaran 2026 dari Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (DPkM UGM), tim pengabdian lintas fakultas UGM mengimplementasikan teknologi insinerator ramah lingkungan untuk menggerakkan pengolahan limbah padat mandiri berbasis masyarakat setempat, Rabu (29/7/2026).
Langkah strategis ini dipusatkan di Gedung Kebudayaan Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Lokasi ini menjadi titik utama perjumpaan antara akademisi, pemerintah daerah, praktisi, dan komunitas lokal dalam merumuskan skema pengolahan sampah yang efisien serta ramah lingkungan.

Program pengabdian skema terapan ini dipimpin oleh Ir. Ignatius Aris Hendaryanto, S.T., M.Eng., IPM. dari Sekolah Vokasi UGM. Dalam pelaksanaannya, beliau didampingi oleh tim pengabdian UGM yang terdiri atas Dr. Ir. Inggar Septhia Irawati, S.T., M.T., IPM. (Fakultas Teknik), Ir. Radhian Krisnaputra, S.T., M.Eng., IPM. (Sekolah Vokasi), Prof. Dr.Agr.Sc. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU. (Fakultas Kehutanan), serta Dr. Ir. Ilham Ayu Putri Pratiwi, S.T. (Sekolah Vokasi).
Guna memperkuat kapasitas warga dalam mengelola limbah dari sumbernya, narasumber ahli turut dihadirkan dalam kegiatan ini. Farid Fakhrudin, S.S., B.Sc., selaku praktisi Bank Sampah Jogja, memberikan sosialisasi mendalam mengenai manajemen tata kelola sampah serta pemilahan sampah organik dan anorganik secara efektif.

Penerapan teknologi tepat guna dan edukasi pemilahan sampah ini menjadi wujud nyata komitmen UGM bersama mitra dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat pedesaan. Integrasi teknologi insinerator dan pemilahan sampah sejak dari rumah dirancang untuk mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menekan risiko penyebaran penyakit akibat penumpukan sampah liar, serta SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) guna mewujudkan kawasan lereng gunung yang bersih dan tangguh ekologi. Selain itu, optimalisasi pemilahan limbah dan pemanfaatan potensi bambu lokal secara bijak turut merealisasikan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Camat Kalikajar, Hermawan Animoro, S.STP., M.M., bersama Kepala Desa Bowongso (Achsin Kholiq), Kepala Desa Butuh (Dzikroni), dan Kepala Desa Butuh Kidul (Drs. Mugiyono) menyambut positif kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis untuk mengandalkan potensi bambu dan menjaga kebersihan lingkungan kawasan Kalikajar. Komitmen ini diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UGM dan pemerintah ketiga desa. Pelaksanaan di lapangan juga melibatkan Kelompok Tani Bina Sejahtera Bowongso, Kelompok Tani Jaya Sampoerna Dusun Garung, KP SPAMS Tirta Aji, perwakilan perangkat desa, serta mahasiswa KKN-PPM UGM Samuhita Kalikajar 2026 sebagai pilar utama pelaksana SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Melalui sinergi multipihak ini, program tidak hanya berhenti pada penyerahan alat, tetapi juga difokuskan pada pemahaman pemilahan sampah dan pendampingan tata kelola operasional secara konsisten. Harapan ke depannya, Desa Bowongso beserta desa-desa di sekitarnya mampu menjadi percontohan desa mandiri sampah di kawasan lereng Sumbing. Pengolahan limbah berbasis masyarakat ini diharapkan dapat memicu kemandirian ekonomi daerah, menjaga kelestarian ekosistem kawasan resapan air, serta memberikan dampak kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang di Kecamatan Kalikajar.