Kontribusi Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi UGM terhadap Pengolahan Limbah Organik dan Ketahanan Pangan di Panti Asuhan dan Pondok Lansia Al-Maa’uun Sapuran, Wonosobo

Departemen Teknik Mesin, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada selalu berkomitmen dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Panti Asuhan dan Pondok Lansia Al-Maa’uun, Sapuran, Wonosobo. Program yang berfokus pada pembuatan mesin penghancur kotoran kambing yang diketuai oleh Budi Basuki ini dirancang untuk mendukung pengolahan pupuk organik secara lebih efisien, sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan di lingkungan panti. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari peta jalan pengabdian masyarakat Departemen Teknik Mesin SV UGM yang telah berjalan sejak 2023 hingga 2025, dan merupakan bukti nyata bahwa kegiatan akademik dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Panti Asuhan dan Pondok Lansia Al-Maa’uun menaungi anak-anak yatim piatu dan para lansia yang tinggal dan beraktivitas di satu lingkungan terpadu. Selain pelayanan sosial, panti menjalankan kegiatan pertanian dan peternakan sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Namun, kegiatan pertanian tersebut menghadapi tantangan signifikan, terutama terkait keterbatasan pupuk organik dan penumpukan limbah kotoran kambing yang selama ini belum diolah secara optimal. Metode pengomposan tradisional membutuhkan waktu lama dan tenaga besar, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pertanian panti secara berkelanjutan. Kondisi inilah yang melatarbelakangi perlunya teknologi tepat guna yang mampu mengolah limbah organik secara cepat, efisien, dan aman digunakan oleh seluruh anggota panti.

Sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, tim pengabdian DTM SV UGM merancang dan membuat mesin penghancur kotoran kambing yang memiliki kemampuan memproses limbah organik menjadi bahan baku kompos dalam waktu yang jauh lebih singkat dibanding metode manual. Mesin ini memanfaatkan motor listrik 2 HP, pisau penghancur berbahan baja karbon SKD, serta rangka baja yang dirancang kokoh sehingga aman digunakan dan mudah dirawat. Dengan kapasitas pengolahan 30 hingga 50 kilogram per jam, mesin ini mampu mempercepat proses fermentasi kompos karena menghasilkan ukuran partikel yang lebih kecil dan homogen. Efisiensi ini memungkinkan panti memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri dan berkelanjutan.

Program ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pencapaian beberapa tujuan SDGs. Aspek SDG 2, yaitu Tanpa Kelaparan, peningkatan kapasitas produksi pupuk organik berdampak langsung pada produktivitas tanaman sayuran dan buah yang dibudidayakan panti. Ketersediaan pupuk kompos yang stabil mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan meningkatkan kualitas hasil pertanian. Perspektif SDG 12 mengenai konsumsi dan produksi berkelanjutan, pengelolaan limbah kotoran kambing menjadi kompos mendukung terciptanya sistem pertanian sirkular yang meminimalkan limbah dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya lokal. Di sisi lain, SDG 15 terkait ekosistem daratan juga memperoleh manfaat melalui perbaikan kualitas tanah, peningkatan unsur hara, dan keberlanjutan lingkungan melalui praktik pertanian organik.

Lebih jauh lagi, keberhasilan program ini memperkuat SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. Kolaborasi jangka panjang antara akademisi dan masyarakat, yang telah berlangsung sejak 2023 hingga 2025, menunjukkan bagaimana institusi pendidikan dapat membangun hubungan yang berkelanjutan dan produktif dengan mitra lokal. Program ini tidak hanya bersifat satu kali intervensi, tetapi menjadi bagian dari rangkaian pengembangan yang dilakukan secara konsisten meliputi pembangunan greenhouse pada 2023, pembuatan mesin pencacah sampah organik pada 2024, dan pembuatan mesin penghancur kotoran kambing pada 2025.

Kegiatan program pengabdian ini, Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan sosial. Implementasi mesin penghancur kotoran kambing menjadi contoh konkret bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menciptakan solusi yang efektif, efisien, dan berorientasi jangka panjang. Inisiatif ini diharapkan dapat direplikasi di komunitas lain yang menghadapi permasalahan serupa, dan menjadi inspirasi bagi pengembangan teknologi ramah lingkungan yang terus berkembang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses