KULON PROGO — Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM menyelenggarakan serangkaian kegiatan pemberdayaan berbasis komunitas di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (6/8/2026). Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kemandirian industri olahan bambu lokal melalui inovasi dan penerapan teknologi tepat guna.

Inisiatif terpadu yang dipimpin oleh Ir. Ignatius Aris Hendaryanto, S.T., M.Eng., IPM. dan Ir. Radhian Krisnaputra, S.T., M.Eng., IPM. ini menggabungkan program penguatan kapasitas usaha dan efisiensi pengolahan bambu bagi warga setempat. Kegiatan tersebut mengusung pendekatan lintas disiplin yang melibatkan kolaborasi strategis antara Sekolah Vokasi, Fakultas Teknik, serta Fakultas Kehutanan UGM untuk memastikan aspek keilmuan teknis, efisiensi material, hingga keberlanjutan pasokan bambu dapat ditangani secara holistik.

Dalam rangkaian acara tersebut, tim pengabdian menggelar sosialisasi dan pelatihan teknis mengenai efisiensi penggunaan mesin bilah bambu portabel berpenggerak diesel. Kehadiran teknologi portabel ini dirancang khusus untuk memudahkan pergerakan di medan perkebunan serta memangkas waktu pengolahan bambu manual yang selama ini memakan banyak tenaga dan waktu para petani lokal.
Sebagai bentuk komitmen pendampingan keberlanjutan, dilakukan pula prosesi serah pinjam mesin pembilah bambu portabel antara pihak Sekolah Vokasi UGM dan pihak masyarakat setempat yang diwakili secara langsung oleh Dukuh Kedungtawang, Kalurahan Purwosari.
Pelaksanaan program pengabdian ini secara langsung mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Integrasi penerapan inovasi mesin tepat guna ini menjadi wujud nyata pemenuhan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam memodernisasi industri kecil pedesaan, sekaligus mendorong SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan nilai tambah dan produktivitas usaha bambu komunitas. Selain itu, optimalisasi pembilahan material juga sejalan dengan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) untuk menguraangi sisa limbah pengolahan, serta mewujudkan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi erat lintas fakultas UGM bersama warga padukuhan.

Melalui penyerahan mesin dan pelatihan teknis ini, tim pengabdian UGM berharap Padukuhan Kedungtawang dapat bertransformasi menjadi pusat pengolahan bambu yang mandiri, efisien, dan memiliki daya saing pasar yang tinggi. Ke depannya, integrasi teknologi mesin pembilah portabel ini diharapkan tidak hanya mempermudah rantai produksi harian warga, tetapi juga memicu lahirnya berbagai inovasi produk olahan bambu bernilai ekonomi tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Purwosari secara berkelanjutan.