



Departemen Teknik Mesin (DTM) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Kompetensi Masyarakat Peduli Sampah Berbasis Inovasi dan Rekayasa di Kabupaten Kulon Progo” pada 8–10 September 2025. Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Eng. Ir. Agustinus Winarno, S.T., M.Eng., dengan dukungan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan mitra komunitas. Tim pelaksana terdiri atas Handoko, Setyawan Bekti Wibowo, Irfan Bahiuddin, Bambang Hari Priyambodo, Luthfi Athaya Wicaksono, dan Ahmad Muhsin Al Mataromi, serta kolaborator dari KSM Melati (Beji, Wates) dan KSM Dadi Asri (Klewonan, Wates) yang diwakili oleh Royke Oktavianus Labiro dan Suyatin.
Kegiatan berlangsung di Departemen Teknik Mesin SV UGM serta Fablab Jogja Indonesia, Field Research Center (FRC) UGM, Kulon Progo. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang masih menjadi tantangan signifikan di Indonesia. Berdasarkan data SIPSN 2022, lebih dari 57% sampah nasional merupakan sampah organik, sehingga model pengelolaan terdesentralisasi di tingkat komunitas menjadi strategi penting dalam pengurangan beban TPA dan penguatan ekonomi sirkular.

Dua komunitas mitra—KSM Melati dan KSM Dadi Asri—selama ini telah aktif dalam edukasi lingkungan serta pengolahan sampah organik berbasis budidaya maggot. Namun, asesmen partisipatif yang dilakukan CoE FabLab SV UGM pada 2023–2024 menunjukkan bahwa masyarakat belum memiliki kemampuan teknis maupun akses teknologi untuk mengembangkan perangkat inovatif seperti maggot box berbasis desain digital dan rapid prototyping. Temuan serupa muncul dalam penelitian PRA Anthropocene 2025, yang menekankan perlunya fasilitasi intensif untuk menjembatani teknologi rekayasa dengan kearifan lokal.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan ini mengadopsi pendekatan hackathon—sebuah metode kolaboratif intensif yang telah terbukti efektif dalam menghasilkan solusi rekayasa dalam waktu singkat dan terstruktur. Pendekatan ini selaras dengan praktik Fab Camp Challenge yang sebelumnya dikembangkan oleh Sekolah Vokasi UGM melalui FRC dan FabLab, yang menghubungkan akademisi, mahasiswa, komunitas, dan pemerintah dalam lokakarya inovasi multidisiplin.
Pelatihan dilaksanakan secara project-based dengan memanfaatkan teknologi fabrikasi digital seperti desain CAD, 3D printing, dan metode rapid prototyping. Peserta difasilitasi oleh tim dosen dan mahasiswa untuk melakukan desain kooperatif, pengujian, hingga evaluasi.
Melalui proses iteratif ini, masyarakat memperoleh peningkatan kapasitas dalam merancang dan mengembangkan prototipe maggot box yang lebih ergonomis, mudah diproduksi, dan sesuai kebutuhan lokal. Kegiatan ini sekaligus menguatkan integrasi antara inovasi teknik, pemberdayaan komunitas, serta praktik ekonomi sirkular berbasis sumber daya lokal.
Pada akhirnya, pelaksanaan kegiatan ini berkontribusi langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kapasitas masyarakat; SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas; SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengurangan sampah organik; dan SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi strategis antara akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lokal.