
Yogyakarta, 21 Oktober 2025 — Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian inovatif yang mengkaji pengaruh penggunaan oxygen concentrator terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus tipe 2. Penelitian ini menunjukkan potensi pemanfaatan oksigen terkonsentrasi sebagai terapi pendukung dalam pengendalian kadar glukosa darah, khususnya saat dilakukan aktivitas fisik seperti thread mill.
Penelitian ini melibatkan responden dengan riwayat diabetes yang menjalani dua tahapan uji. Pada tahap pertama, responden melakukan thread mill selama 30 menit tanpa bantuan oxygen concentrator. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kadar glukosa darah tidak mengalami penurunan signifikan, dengan nilai masih berada di atas ambang batas normal. Namun, pada tahap kedua, ketika thread mill dilakukan dengan bantuan oxygen concentrator—yang mampu menyediakan oksigen murni hingga 100%—terjadi penurunan kadar glukosa darah secara signifikan, dari rata-rata 130 mg/dL menjadi 93 mg/dL.


Menurut hasil observasi lapangan, peningkatan kadar oksigen dalam darah mampu meningkatkan metabolisme sel dan sensitivitas insulin, sehingga membantu proses pemecahan glukosa lebih optimal. “Oxygen concentrator dapat menjadi solusi praktis dan terjangkau dibanding terapi oksigen hiperbarik yang biayanya tinggi dan aksesnya terbatas,” jelas salah satu dosen pembimbing penelitian dari Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM.

Penelitian ini juga memanfaatkan alat ukur glukosa darah digital serta thread mill sebagai bagian dari simulasi aktivitas fisik terkontrol. Dengan pendekatan eksperimental ini, tim berhasil menunjukkan hubungan langsung antara peningkatan suplai oksigen dengan penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes.
Selain memberikan kontribusi dalam bidang kesehatan metabolik, penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being. Melalui riset ini, UGM berkomitmen mendukung peningkatan kesehatan masyarakat dan pengembangan teknologi medis yang inklusif serta mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat.
Inovasi berbasis teknologi oksigen ini diharapkan dapat membuka jalan bagi penerapan terapi pendukung bagi pasien diabetes di Indonesia, sekaligus menjadi inspirasi bagi penelitian lanjutan di bidang kesehatan preventif dan rekayasa medis.